puisi cinta

#DERMAGA_HATI

Engkau penyemangat dalam hidup
Di kala kubersedih, tertawa bahagia 
Karena separuh hatiku adalah dirimu 
Engkaulah dermaga hatiku berlabuh 

Lukamu lukaku jua 
Sedihmu sedihku jua
Bahagiaku bahagiaku jua
Apa yang engkau rasa akupun merasakan jua

Keyakinan ini selalu ada dalam diri 
Kesetiaan ini takkan pernah sirna 
Satu hati dalam satu rasa bersamamu 
Akan kekal abadi hingga sampai akhirnya menyatu dalam ika
ANGIN MEMBAWA KABAR
Di Bawah Langit Aceh
Mustiar Ar

Musim berganti perlahan.
Senja masih datang seperti biasa, menyelimuti langit Aceh dengan warna-warna yang menenangkan. Ombak masih setia menyapa pantai. Burung-burung laut masih terbang rendah di atas permukaan air.
Namun kehidupan manusia tidak selalu setenang laut yang terlihat dari kejauhan.
Beberapa minggu terakhir, suasana kampung mulai berubah. Di warung kopi, pembicaraan tak lagi hanya soal hasil tangkapan ikan atau harga kebutuhan pokok. Orang-orang mulai berbicara tentang keadaan yang semakin sulit dipahami.

Mereka berbicara dengan suara yang lebih pelan.
Seolah ada sesuatu yang tak boleh diucapkan terlalu keras.
Rizal mulai menyadari perubahan itu ketika suatu malam ayahnya pulang lebih cepat dari biasanya.
Wajah lelaki paruh baya itu tampak lebih serius.
"Ada apa, Yah?" tanya Rizal.
Ayahnya hanya menghela napas.
"Tidak apa-apa. Kau jangan terlalu sering pulang malam."
Jawaban itu sederhana, tetapi cukup membuat Rizal berpikir sepanjang malam.
Keesokan harinya, ia tetap pergi ke pantai.
Seperti biasa, Salsabila sudah lebih dulu berada di sana.
Gadis itu duduk di atas batu besar sambil memandangi laut.
Namun kali ini senyumnya tidak secerah biasanya.
"Ada yang kau pikirkan?" tanya Rizal.
Salsabila mengangguk.
"Ayah juga mulai sering khawatir."
"Khawatir tentang apa?"
"Aku tidak tahu pasti. Tapi beliau bilang keadaan sedang tidak baik-baik saja."
Rizal terdiam.

Untuk pertama kalinya, mereka membicarakan sesuatu yang terasa lebih besar daripada diri mereka sendiri.
Angin sore berembus pelan.
Membawa aroma garam dari laut.
Sekaligus membawa kegelisahan yang mulai tumbuh di dalam hati mereka.
Hari-hari berikutnya, perubahan itu semakin terasa.
Beberapa warga memilih tidak bepergian jauh.
Jalan-jalan kampung yang biasanya ramai mulai lebih cepat sepi ketika malam tiba.
Anak-anak yang biasa bermain hingga petang kini lebih sering berada di dalam rumah.
Tak ada yang benar-benar mengerti ke mana arah keadaan akan membawa mereka.
Yang mereka tahu, suasana damai yang selama ini terasa biasa perlahan menjadi sesuatu yang dirindukan.

Di tengah ketidakpastian itu, Rizal dan Salsabila tetap bertemu.
Pantai menjadi tempat mereka menyimpan kegelisahan.
Tempat mereka merasa dunia masih bisa dipahami.
Suatu sore, saat matahari mulai turun ke ufuk barat, Salsabila menyerahkan sebuah buku kecil kepada Rizal.
"Apa ini?" tanya Rizal.
"Buku catatanku."
Rizal menatap heran.
"Untuk apa?"
"Kalau suatu hari kita tidak bisa bertemu, setidaknya ada sesuatu yang bisa mengingatkanmu padaku."
Ucapan itu membuat dada Rizal terasa sesak.
Ia membuka halaman pertama.
Di sana tertulis dengan tulisan rapi:
"Tidak semua pertemuan lahir untuk selamanya. Tetapi beberapa pertemuan cukup berarti untuk dikenang sepanjang hidup."
Rizal menutup buku itu perlahan.
"Kenapa kau bicara seperti itu?"
Salsabila tersenyum, meski matanya tampak menyimpan kesedihan.
"Aku hanya berjaga-jaga."
Untuk pertama kalinya, Rizal merasa takut.
Bukan takut pada kabar yang beredar.

Bukan takut pada ketidakpastian.
Melainkan takut kehilangan seseorang yang diam-diam telah menjadi bagian dari hari-harinya.
Senja perlahan tenggelam.
Langit berubah merah tua.
Laut menjadi gelap.
Dan di antara suara ombak yang terus bergulung ke pantai, angin kembali membawa kabar.
Kabar yang semakin dekat.
Kabar yang tak lagi bisa diabaikan.
Kabar yang kelak akan memisahkan banyak orang dari kampung halaman, dari keluarga, dan dari orang-orang yang mereka cintai.
Termasuk Rizal dan Salsabila.
Namun malam itu, mereka masih duduk berdampingan.
Menikmati sisa-sisa senja.
Seolah waktu masih berpihak kepada mereka.
Padahal tanpa mereka sadari, takdir sedang menyiapkan perpisahan yang tak pernah mereka inginkan.


KITA 
Adalah yang jauh 
Tapi dekat 

Di pisahkan 
Oleh jarak dan waktu 

Di satukan 
Oleh perasaan yang serupa 

Di bersamai oleh rindu 
Dan mimpi mimpi 

Terikat erat pada janji 

Cinta telah memanggil kita 
Untuk melebur bersama 
Dalam sebuah cerita 

_____Di pelataran KITA ADALAH CERITA....
14 juni 26
Tergoda Asmara✍️
---------------------------
Dalam terang mata tak mampu terpejam
Malam menjelang rasa takut pun datang
Bukan takut karna sendiri ataupun gelap karna makin rapat mata terpejam bayangmu makin jelas dan enggan untuk pulang


*Puisi cinta tak berlabu karna bukan kolak*✍️
---------------
Kiasan yg tak nyambung sudah menjadi adabnya
Beralay - alay kata indah tanpa warna
Manis lembut tutur kata sungguh itu berbisa adanya
Ba'ah budi luhur bersikap seolah - Olah tak da aib dan noda✍️

Cinta memang indah bagi yg succes
Duka tak kentara bila tak kuasa
Cinta tak belabu karna memang bukan kolak yg bisa dirasa bila ada santan dan gula✍️


Bunga sedap malam menyebarkan aromanya
angin membawanya terbang ke rumah kayu di bukit timur
lentera kecil meliuk 
bayang-bayang bergerak 
Dan bulan di langit lembut berikan kehangatan
sampai fajar menelam semua suasana
BUNGA MELATI HATIKU

Engkau indah pelangi 
Selalu ada mewarnai hatiku 
Engkau bunga melati suci 
Selalu menuntunku menuju cahaya -Mu

Tutur kata resapkan nilainya 
Sesejuk sebening sedamai embun pagi hari 
Sehingga ada rasa kenyamanan ada dalam persinggahanmu
Yang akan kujadikan sebagai sandaran hatiku 

Meskipun banyak kesalahan pahaman 
Untuk menyatu segala perbedaan 
Aku yakin bila kita dengan tenang dan sabar menghadapinya 
Semua akan bisa terlewati 

Cuma satu pintaku teruntukmu 
Yakin setia dan percayalah padaku 
Karena cintaku hanya untukmu seorang selamanya 
Takkan hilang meskipun aku tiada
Cintaku untukmu' kekal abadi selamanya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Partai Gerakan Perubahan, di Rumah Perwakilan Rakyat

Partai Gerakan Perubahan.

HENTIKAN PHK SEMENA-MENA, SELAMATKAN MASA DEPAN BURUH INDONESIA